Latifah Warga Gampoeng Manekawan Tinggal di Rumah Reyot Berlantai Tanah

Aceh Utara (kabar-nusantara.com) –  Menempati rumah layak huni tentu menjadi idaman bagi setiap orang. Kendati demikian realitasnya masih banyak ditemukan warga yang menempati rumah reyot dengan kondisi serba kekurangan.

Seperti yang dialami satu keluarga asal Desa Manekawan, Kecamatan Seunuddon, Kabupaten Aceh Utara, yang tinggal di rumah reyot, berlantai tanah liat dengan dinding terdiri dari bilah bambu.

Rumah yang ditempati sepasang suami istri dengan 2 orang anak dan cucunya ini, kondisinya sungguh memprihatinkan dan jauh dari kata layak.

Liputan awak media pada Senin (28/11/2022) mendapati rumah petani itu berukuran kecil dengan dinding pelupuh bambu, hanya mempunyai satu kamar tidur, dan sebuah dapur.

Rumah berukuran 5×6 meter ini memiliki perabot rumah yang terbatas. Dinding rumah dan atapnya tampak bolong di berbagai sisi. Jika musim hujan dipastikan air bisa menembus bagian dalam rumah.

“Keluarga Latifah sudah lama hidupnya di tengah kemelaratan,” kata seorang  tetangganya.

Sementara sang suami Amsari (70) sebagai kepala keluarga, ia bekerja sebagai petani penggarap lahan milik warga lain, tetapi selama ini kondisinya sering sakit-sakitan dan mencari makan hanya dengan cara meminta sedekah di seputaran Kecamatan Seunuddon.

Amsari dikenal sebagai seorang perantau dari daerah lain, dia tidak memiliki tanah lahan untuk bertani. Sehingga ia hanya bekerja serabutan mengolah lahan pertanian milik warga lain.

“Kehidupan keluarga pak Amsari ini sangat memprihatinkan sehingga menurut saya perlu mendapat perhatian, terutama  tempat tinggalnya yang sangat tidak layak,” kata Saprudin warga setempat. 

Ia berharap, Pemerintah Provinsi  Aceh segera memberikan bantuan berupa perbaikan rumah layak huni bagi keluarga tersebut.

“Semoga dengan diberitakan oleh teman-teman media, Pemprov Aceh atau Pemkab Aceh Utara atau Panglima Gam (Mualem) mengetahui bahwa ternyata ada warganya yang hidup dalam kondisi memprihatinkan yang sangat membutuhkan bantuan,” jelasnya.

Sedangkan menurut sang istri Latifah (65) menyatakan, suaminya hanya bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan yang tidak tetap dan tidak bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari.

“Kami tinggal di sini sudah puluhan tahun, selama itu pula kami tinggal di tempat ini dengan kondisi apa adanya, kami belum pernah mendapat bantuan apapun dari Pemerintah,” ungkapnya.

Latifah berharap bisa mendapat bantuan perbaikan rumah dari Pemerintah setempat, seperti bedah rumah atau bantuan rumah layak huni atau apapun namanya agar  bisa menempati rumah yang lebih baik dan layak.

“Lihat saja kondisi tempat saya seperti ini pak, mau rehap kami tidak punya biaya, makan setiap haripun susah, mana lagi suami saya sering sakit-sakitan,” tutupnya. (RZ/GD)