Jayapura (kabar-nusantara.com) – Natan Pahabol anggota Sinode GKI di Tanah Papua melounching buku yang ditulis oleh Pdt Doktor Siegfried Zollner dengan judul Damai di Pegunungan Papua perjumpaan pertama dan perintis misi di suku Yali, Minggu (12/03/2023).
buku ini menceritakan secara holistik terkait dengan pekabaran injil, pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan, itu sangat lengkap bagaimana perjalanan. Mulai dari Jerman sampai Indonesia masuk Papua, Jayapura, naik ke Wamena terus menelusuri dengan berjalan kaki.
“Bersama rombongan dari Wamena menuju ke Angguruk, akhirnya tiba di Swele-Piliam, Brongggoli pada 24 Maret 1961, tanggal itu di tetapkan sebagai hari injil masuk. Maka dalam rangka memperingati Injil masuk ke 62 tahun, kita launching buku terkait sejarah ini,” kata Natan.
Natan menjelaskan Ini sejarah, jadi sangat penting untuk generasi harus tahu bagaimana para misionaris, penginjil-penginjil pertama, pembangunan peradaban seperti apa, termuat di buku itu, jadi penting untuk kita semua tahu sejarah.
“Kami berharap seperti penulis sendiri menyampaikan bahwa, kita mempelajari sejarah ini untuk memberi motivasi, bisa di tiru bagaimana kehidupan awal yang susah-susah saja dapat melakukan pelayanan. Sekarang fasilitas sudah memadai pengetahuan dan lain-lain sangat baik, sehingga lebih disiplin dalam melaksanakan itu, ” jelasnya.
Dia berharap bahwa sekarang ini jaman media digital, jadi orang tidak lagi menulis dalam buku, tetapi digital tidak bisa masuk sendiri. Harus ada gagasan kemudian dimasukkan dalam digital, jangan sampai digital ini membuat orang tidak menulis.
Itu berbahaya karena tidak melakukan penelitian tetapi berharap gampang akses semua. Tetapi dalam digitalisasi ini orang punya pikiran yang masuk ke dalam, bukan dia sendiri yang masuk.
“Jadi dalam perkembangan era globalisasi ini memang diharapkan kita tetap menulis, karena generasi dulu beda dengan sekarang, generasi sekarang ini tidak tahu dengan sejarah masa lalu, tetapi melalui tulisan semacam ini di ingatkaningatkan, ” terangnya.
“Jadi anak-anak perlu tahu, sekalipun di kampung mereka mungkin tidak bisa tahu cerita, tetapi kalau melalui buku-buku ini bisa mengetahui,” pungkas Pahabol. (KBN-145 – Obock)













