Malaka (kabar-nusantara.com) – Rumpun Suku Umakaikmesak di Maktihan Desa Na’as Kecamatan Malaka Barat, Kab. Malaka, NTT saat ini tengah bergotong royong membangun sebuah Rumah Adat, tempat berkumpul disaat panen dan rituwal sakral kekuatan leluhur, yang disebut Uma Kakaluk.
Daniel seorang Kepala suku yang disebut Ambei Fukun menjadi pemangku adat suku itu menyatakan, “saya selama menjadi Fukun baru satu rumah ini yang harus dikerjakan bersama semua saudara disuku ini. Karena jika tidak sering berkumpul keadaan keluarga akan mulai renggang dan mulai luntur persaudaraan, keadaan dikawatirkan semakin lama akan saling rebutan kekuasaan.
Sebenarnya semua masalah itu sudah diatur sejak dahulu kala, secara turun temurun tetapi mengapa sekarang berebutan, adik merampas posisi kakak demikian kakak sebaliknya ada yang merampas posisi adik,” kata Daniel di lokasi pembangunan Rumah adat itu.
Dia melanjutkan, “ada sebuah rumah adat suku ini yang sampai saat ini belum bisa dibangun karena saling rebutan Tahta di rumpun kekeluargaan Suku umakaikmesak ini. Yaitu UMA Lakateu (rumah suku merpati). Rumah adatnya terkenal dan miliki sejarah yang panjang secara turun-temurun.
Sekarang malah Rumah adat lainnya yang lama sudah rusak berat dan ada yang tinggal tiang-tiangnya saja yang tertanam di halaman pemukiman. Tentu untuk membangun rumah tersebut sudah tidak bisa lagi dibangun. Kemudian sudah tidak jelas keluarga mana yang harus berada di rumah itu.
Saya menjadi Ketua suku menggantikan almarhum Paman saya, tapi tidak banyak tahu tentang Suku Merpati ini karena saya masih baru dan paling muda.. Ini yang saya perbaiki ini Rumah Adat Kakaluk dari tahun lalu sudah tidak layak maka pada awal Februari 2022, mulai kami bangun sampai hari ini. Jadi memang Rumah tempat leluhur ini sudah harus diperbaiki karena rusak Berat.
Sementara Yosep klau salah satu anggota pengurus SIS dan Bro SNKT mengatakan Rumah ini sewaktu suksesi Bupati Simon dan Kim Taolin datang dan mengambil sirih pinang disini, kami berharap boleh kembali lagi mengucap syukur. Dan maaf saja karena kami sudah bongkar sekarang dan masih memperbaikinya kembali.
Setidaknya harapan kami tidak sama seperti saat dipimpin Bupati dan Wakil Bupati periode lalu. “Tidak ada persoalan menarik untuk menjadi orang tua yang selalu siap memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya,” kata Yoseph.
Selanjutnya Yuliana Telik, istri almarhum Yosep Bria PR, mantan Kepala suku yang digantikan Daniel, menyarankan ada tiga kekuatan yang di bagi kepada khalayak putra dan putri disini. Dan ini tidak bisa disebutkan karena saat ini semua leluhur ada disini membangun tempat ini. Menjaga kata-kata dan perilaku agar tidak berakibat buruk. Sekedar untuk diketahui saat ini ada 3 rumah yang sudah rusak tidak beratap dan tidak berndinding lagi.
Yaitu Uma Ferik dan Uma Fukun, kemudian satunya lagi yang sedang di kerjakan yaitu Uma Kakaluk ini dengan berbahasa tetun fehan
“Keta nai kekes Tan ohin loron bei sia tuan no nurak raksudik iha nene hakes rakar ibu ma rakar Lia. ” katanya sembari membeberkan bentuk rumah dan terapan-terapan di suku itu, dalam bahasa daerah selanjutnya. (Rofinus Bria)



