Tanjung Selor (kabar-nusantara.com) – Kukuy yang ditampilkan pemuda pemudi Dayak Agabag Kabupaten Nunukan, pada Mubes ke-I Pemuda Dayak Kalimantan Utara memukau hadirin. Kesenian daerah masyarakat Dayak itu digelar di gedung Safari, Jumat (29/07/2022).
Para pemuda Dayak dari lima Kabupaten/Kota, diantaranya Kabupaten Nunukan, Kabupaten Malinau, Kabupaten Tanah Tidung, Kabupaten Bulungan dan Kota Tarakan, hadir mempersembahkan kesenian daerah masing-masing.
Nasution, tokoh masyarakat Adat Dayak Agabag kepada awak media ini mengatakan, Kalimantan Utara ini memiliki penduduk dengan latar belakang suku, agama dan ras yang berbeda-beda. Suku dayak misalnya, ada Agabag, Kenya, Putuk, Lundayeh, Punan, Tahol, Akolod, Berusu dan lain-lain, memiliki adat dan budaya, bahkan bahasa yang berbeda-beda.
“Untung saja ada bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu,” ungkap Nasution.
Ia menambahkan, sebagai masyarakat adat Dayak Agabag, ia bangga karena Kukuy ditampilkan luar biasa pada hari ini, waktu Ilau dan Mubes Dayak Agabag ke-IX Kukuy meraih Rekor Muri untuk Indonesia.
Dalam sinopsis Kukuy, jelas Nasution, Kukuy dilantunkan dengan menggunakan bahasa alam (gaib) ini karena bahasa dilantunkan bahasa yg sangat bermakna (bahasa alam) dan sakral, pada zaman dahulu/Zaman TABUG, atau lebih di kenal dengan Zaman Ngayau
Kukui berarti lantunan yang sangat berarti, tergantung situasi yang di hadapi saat melantunkannya. Kukui dilantunkan sebelum berangkat mengayau dan juga setelah pulang dari mengayau saat para leluhur Agabag sukses memenangkan pertempuran atau Ngayau.
Sehingga mereka melantunkan Kukui sebagai tanda kemenangan atas pertempuran tersebut yang mereka sebut “Amayung Da Ulu” atau Ngayau/Tabug. Kukui bermakna tanda permintaan atas alam gaib dalam pertempuran yang di sebut mereka AMOL.
Kukui juga berarti sebagai tanda kemenangan dalam pertempuran Ngayau, kemudian di meriahkan dalam upacara kemenangan Ngayau yang mereka sebut leluhur Dayaka Agabag “BELAKAN” atau “BELAU” atau tanda syukur atas kemenangan dan tanda terima kasih pada leluhur/akion Dayak Agabag.
Saat ini Kukui digunakan untuk dilantunkan dalam bentuk syukur dan digunakan dalam menyambut tamu-tamu agung dan digunakan untuk mempererat persatuan.yang terus dilestarikan oleh generasi Dayak Agabag dalam upaya menjaga hubungan masyarakat adat dengan keseimbangan alam.
Di tempat terpisah, Wakil Gubernur Kalimantan Utara, Dr. Yansen TP, M, SI menyampaikan terima kasih kepada seluruh pemuda Dayak se-kalimantan Utara, tokoh adat, tokoh agama, para pejabat pemimpin daerah, TNI, Polri, unsur Muspida dan tokoh masyarakat yang hadir.
“Seperti tema yang diusung pada Mubes ke-I ini, Pemuda Dayak bangkit, bersatu dan maju bersama membangun Kaltara” hendaklah kita saling mendukung, bergandengan tangan untuk kemajuan Kaltara, maju sejahtera dan terdepan, itu ada ditangan para pemuda generasi penerus yang hadir malam ini,” jelas, mantan Bupati Malinau dua periode itu. (Roni Duman)






