Aceh:Kabar-nusantara.com
Catatan Jurnalis:Opini
Di tanah rencong yang kaya sejarah dan budaya, kembali menjadi perhatian setiap kali tanggal 26 tiba. Tanggal ini mengingatkan kita pada peristiwa besar yang menguji ketahanan dan persatuan bangsa. Tsunami dahsyat pada 26 Desember 2004, yang merenggut ratusan ribu nyawa, terjadi di tengah konflik bersenjata yang melanda Aceh.
Bertahun-tahun kemudian, pada 26 November 2025, banjir bandang kembali menerjang Aceh, menambah luka dan duka, kerusakan dimana mana. Bencana ini terjadi di tengah berbagai dinamika sosial dan politik yang mewarnai kehidupan masyarakat Aceh.
Pertanyaan?..Mengapa tanggal 26 begitu lekat dengan ingatan kolektif kita? Apakah ini sekadar kebetulan alam, atau ada pesan yang lebih dalam yang ingin disampaikan? Kejadian ini mengajak kita untuk merenungkan perjalanan bangsa, serta tantangan dan harapan yang ada di depan mata.
Terlepas dari berbagai interpretasi, penting untuk diingat bahwa Aceh adalah bagian tak terpisahkan dari Indonesia. Sejarah Aceh adalah bagian dari sejarah kita semua. Semangat persatuan dan solidaritas yang ditunjukkan oleh seluruh rakyat Indonesia pasca-tsunami adalah bukti bahwa kita adalah satu keluarga besar.
Namun, persatuan saja tidak cukup. Keadilan sosial harus menjadi fondasi utama dalam membangun bangsa yang kuat dan sejahtera. Kita harus memastikan bahwa seluruh warga negara, termasuk masyarakat Aceh, memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.
Oleh karena itu, mari kita jadikan tanggal 26 sebagai momentum untuk:
1. Memetik Hikmah: Belajar dari sejarah, menghargai perbedaan, dan memperkuat toleransi sesama.
2. Merajut Persatuan: Menjaga semangat gotong royong dan kebersamaan sebagai bangsa Indonesia.
3. Menuju Keadilan: Berjuang untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, tanpa terkecuali.
Dan kita harus menghindari terjebak dalam polarisasi dan saling menyalahkan. Lebih baik, kita fokus pada upaya perbaikan,membangun jembatan komunikasi, saling memahami, dan mencari solusi bersama. Dialog yang konstruktif, partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat, dan komitmen dari para pemangku kebijakan adalah kunci untuk mencapai tujuan tersebut.
Sebagai generasi penerus bangsa, mari kita jaga persatuan dan kesatuan, serta menjunjung tinggi nilai-nilai luhur Pancasila sebagai pedoman hidup. Dengan begitu, kita dapat mewujudkan Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera bagi seluruh rakyatnya.
Jurnalis:Aprizali munandar (Putra Beutong)
