Endrayana den prayitna
Watekana japa mantramu aji
Pancapana ywa kmalungkung
Ngendelke kaprawiranira…
(Kabar Nusantara) – Tembang Palaran Pangkur yang menggambarkan serunya pertempuran antara kesatria Pancapana melawan pendekar Endrayana tersebut mengalun di antara dentingan suara perkusi gamelan yang sangat dinamis ditingkahi dengan suara kendang sebagai indikator pergantian dalam transisi gerak para penari.
Lantunan bunyi gamelan Jawa membahana di suluruh penjuru panggung yang berbentuk open air (terbuka). Beberapa penari putra visualisasi dari prajurit Durgaloka menyebar ke seluruh penjuru membentuk gerak dengan berbagai konfigurasi yang sangat eksotis. Selang beberapa waktu muncul penari putri layaknya pendekar melawan kelompok penari putra. Mereka berusaha mengeksploitasi diri dengan mengoptimalkan karakterisasi gerak selaras dengan casting yang dibawakan.
Adegan pertempuran dibalut dengan estetika gerak memenuhi arena pertunjukan. Tatapan mata menyapu seluruh ruang pentas menunjukkan keyakinan yang menjadi prinsipnya. Di tengah panggung mereka memvisualisasikan berbagai ragam gerak baik itu gerak maknawi ataupun gerak murni yang lebih mengedepankan estetika. Kibasan tangan, kelenturan torso (badan), maupun permainan komposisi dapat mereka eksploitasi dalam suatu konfigurasi yang terpadu.
Adegan tersebut mengawali pagelaran sendratari bertajuk “Bhumi Sambhara Budhara” yang dimainkan oleh para seminaris (murid) SMA Seminari Mertoyudan Magelang pada hari Senin tanggal 27 April 2026 di GOR Laudato Si tersebut mendapat apresiasi cukup meriah. Pasalnya para pemainnya adalah para seminaris kelas nol atau kelas persiapan pertama. Baik itu penari maupun pengrawit masing-masing dengan total dapat membawakan perannya dalam rangka Puncak Hari Petrus Kanisius ke-114.
Sendratari tersebut digarap dalam rentang waktu dua bulan dengan koreografer Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd. Penata iringan oleh FX. Purwandi, S.Pd., MM.Pd. Sedangkan moderator seni pertunjukan didampingi oleh Frater Teilhard Aurobindo Soesilo, S. Fil. Penari maupun pengrawit semuanya berasal dari kelas persiapan pertama atau kelas nol.
Adapun casting para penari tersebut adalah Samaratunggadewa (diperankan oleh Adit), Pancapana (Juno), Endrayana (Nando), Bayumurti (Klemens), Pramudyawardhani (Kinan), Candradewi (Quensa), Sidhakalagana (Joel), Rupayaksa (Reno), Bhismaprabawa (Didan), Tatsakamurti (Lokes), Komposisi Putra (Alfon, Alvaro, Matteo, Iyo, Aurie, Rama). Untuk manajemen seni pertunjukan dipercayakan kepada Rama dibantu tim podium dan estetika.
Media Ekspresi
Pagelaran dalam rangka hari ulang tahun ke-114 SMA Seminari Mertoyudan Magelang atau yang dikenal dengan Canisii Seminarium itu dapat menjadikan media penyaluran ekspresi para seminaris dalam menyalurkan bakatnya masing-masing dalam ranah kongkret. Semua potensi mereka dapat tersalurkan dalam pagelaran tersebut, baik melalui media gerak, karakter, penjiwaan pada musik pengiring, maupun penguasaan panggung seni pertunjukan.
Sendratari itu berkisah Sang Hyang Pratanggapati dari ufuk timur memancarkan sinar cerah berpendar dengan bias layung yang menggayut dengan warna pelangi menyinari Pendapa Kerajaan Poh Pitu. Kerajaan besar Dinasti Sanjaya ini, baru menobatkan Pangeran Pancapana menjadi raja dengan gelar abhiseka Sri Maharaja Rakai Pikatan. Sang Raja yang belum mempunyai permaisuri, ingin melamar bunga indah dari Padepokan Arga Daksina, yakni Candradewi putri semata wayang Resi Ekalaya. Untuk mewujudkan keinginannya tersebut, diutuslah Senapati Endrayana ke Padepokan Arga Daksina.
Di tengah perjalanan hati Endrayana bagaikan tersayat sembilu, dikarenakan Candradewi sudah lama menjadi kekasihnya. Setelah melaksanakan kewajibannya, dalam hatinya ingin mencoba sejauhmana kesaktian Rakai Pikatan dengan cara mengikuti sayembara yang diadakan di Kerajaan Syalendrawangsatilaka.
Alun-alun Kerajaan Syalendrawangsatilaka sudah penuh sesak oleh para kesatria, pangeran, raja, dan juga para darmadyaksa yang ingin mengikuti sayembara. Adapun yang akan disayembarakan adalah merentang gendewa Dewandaru sebagai pusaka kerajaan, melenyapkan perampok di Gunung Papak, dan membuat bangunan suci sebagai simbol keagungan. Barangsiapa yang berhasil pada tahapan ketiga-tiganya, berhak mempersunting putri sekar kedaton Dyah Pramudyawardhani.
Rakai Pikatan, Endrayana, dan Sidhakalaga, berhasil menyelesaikan sayembara pertama dan kedua. Selagi kedua kesatria itu bertikai dalam mempertahankan prinsipnya, Sidhakalagana berusaha menggunting dalam lipatan, menyusup ke istana untuk memaksakan kehendaknya kepada Pramudyawardhani.
Pancapana dan Endrayana baru sadar ketika diingatkan oleh Gurunya Resi Bayumurti, bahwa pertikaian sesama saudara tidak ada gunanya. Mereka berdua diberitahu, bahwa Sidhakalagana telah menggunting dalam lipatan dengan cara menyusup ke istana untuk memaksakan kehendaknya.
Sidakalagana yang mempunyai maksud tidak baik untuk memaksa Pramudya Wardhani menjadi istrinya, akhirnya dapat dilenyapkan oleh Pancapana dan Endrayana dengan dibantu pendeta Bayumurti. Sedangkan sayembara terakhir yakni membangun bangunan suci, dapat dimenangkan oleh dua satriya pinilih yaitu Pancapana dan Endrayana. Dengan didukung oleh semua lapisan komunitas, di Daerah Teru Tepusan, pada tahun 824 M, berdirilah bangunan suci dengan nama “BHUMI SAMBHARA BUDHARA” atau sekarang yang dikenal dengan Borobudur.
Pembelajaran Terpadu
“Diangkatnya cerita tersebut dalam bentuk sendratari di SMA Seminari dapat menjadikan refleksi bagi semua pihak tentang pentingnya jiwa nasionalisme diterapkan dalam ranah yang lebih luas,” kata Dwi Anugrah koreografer sendratari tersebut.
Lebih jauh dijelaskan, pagelaran tersebut dapat pula menjadi media untuk mengaplikasikan integrated learning atau pembelajaran seni terpadu dengan latar belakang cerita historis yang sekarang semakin jauh dikenal oleh anak-anak muda seusia sekolah.
Dengan mengedepankan sosok Pancapana dan Endrayana dalam cerita historis tersebut kiranya dapat pula menjadi kaca benggala bagi semua pihak untuk menjadikan nasionalisme dan kesetiaan sebagai pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang sekarang ini kadarnya mulai menipis.
Dari pemilihan tema kesetiaan dalam sendratari itu ada tujuan mendasar yang hendak dicapai sebagai proses pembelajaran. Pertama, sebagai ajang apresiasi para seminaris agar potensi seninya dapat tersalur secara optimal. Kedua, dapat menumbuhkan kepekaan rasa estetik dan artistik sehingga nantinya dapat menumbuhkan sikap kritis, apresiatif, dan kreatif pada diri peserta didik secara holistik. Ketiga, menumbuhkan kapabilitas imajinasi dalam ranah pemahaman karakterisasi selaras dengan tokoh yang dimainkan.
Keempat, memberi penguatan pendidikan seni budaya pada diri para seminaris dengan harapan nilai-nilai kearifan lokal yang tervisualisasikan dalam sendratari tersebut dapat menjadi kekuatan riil pembentukan pendidikan karakter.
Sedangkan pesan yang akan disampaikan pada publik melalui pagelaran sendratari tersebut di antaranya adalah memberi masukan untuk semua pihak untuk belajar berefleksi, yakni merenungkan dengan pengendapan pemikiran jernih untuk semua permasalahan dan jangan lupa selalu memegang prinsip. Seperti Pancapana dan Endrayana yang selalu memegang prinsip secara konsisten untuk selalu mengedepankan kepentingan umum daripada kepentingan pribadinya.
Di samping itu, keberanian memilih di antara beberapa opsi yang sama-sama sulitnya merupakan sikap yang perlu dikedepankan dengan tidak meninggalkan aspek penalaran yang jernih. Ilmu pengetahuan setinggi apa pun bila tidak diimbangi dengan sikap dan etika yang normatif nantinya akan membawa malapetaka. Kebersamaan, solidaritas, dan tanggung jawab merupakan substansi yang sangat prinsip untuk memperoleh kebahagiaan.
Antusiame pentonton pun sangat positif, Para penari yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia dapat menampilkan karya spektakuler tentunya menjadi apresiasi tersendiri.
’’Saya sangat terkesan ketika menjadi penari sendratari ini. Saya yang berasal dari Jakarta dapat memahami karakter tari Jawa yang beragam. Tantangan ini menjadi bekal saya untuk memahami ranah estetika sebagai fondasi menjadi calon imam masa depan,’’ tutur Juno penari yang berperan sebagai tokoh Pancapana.
Bila diamati secara lebih akuratif dalam sendratari tersebut dapat ditarik suatu tautan benang merah, bahwa sebenarnya jiwa-jiwa muda yang sedang tumbuh itu perlu dikenalkan dengan akar budaya yang tumbuh di lingkungannya. Hal itu perlu dilakukan dengan metode pendampingan partisipatif. Seperti mengenalkan karakter masing-masing tokoh dalam bingkai cerita historis ataupun wayang yang kemudian diselaraskan dengan karakter dalam seni tari yang diperankan.
Dengan demikian harapannya ke depan, proses berkesenian yang ada di masing-masing sekolah dapat tumbuh dan berkembang sebagai proses penyadaran untuk bisa menghasilkan generasi muda tangguh, memiliki rasa nasionalisme, dan kesetiaan dengan tidak mengesampingkan jiwa humanis sebagai ikon dari tujuan mendasar pendidikan.
Pagelaran sendratari dengan durasi 60 menit tersebut merupakan karya produksi SMA Seminari Mertoyudan yang ke-34. Rupanya Dwi Anugrah koreografer sendratari tersebut tetap setia menciptakan karya inovasi dengan mengambil alur tematik yang bersumber dari cerita historis sebagai sumber inspirasi dari penguatan pendidikan karakter. Harapan lebih jauh, agar generasi muda lebih mengenal pesan-pesan moral yang terkandung dalam cerita kearifan lokal sehingga mereka tidak tercerabut dari akar budayanya sendiri. (*)
Penulis:
Christian Adi
Pengamat Seni Pertunjukan
Tinggal di Magelang











