Shalat Idul Adha 1443 H Bersama Gubernur Jateng Ganjar Pranowo

Semarang (kabar-nusantara.com) – Gubernur Jawa Tengah H. Ganjar Pranowo, SH, M. IP melaksanakan shalat Idul Adha bersama ummat islam di Lapangan Pancasila, Simpang Lima  Semarang, Jawa Tengah, Minggu 10/7/22

Gubernur yang diharapkan oleh warga Jawa Tengah akan menjadi penerus kepemimpinan RI 1 pada 2024-2029 itu dengan khusyuk dan bersahaja mengikuti khutbah Idul Adha yang disampaikan oleh Profesor Dr. H.  Imam Taufiq, M.Ag, Rektor UIN Walisongo Semarang.

Dalam khotbah Idul Adha tersebut K.H. Imam Taufiq, antara lain menyampaikan, ibadah idul adha berkaitan dengan ibadah sosial. Yaitu berkorban. Dalam al Qur’an surat Al Hajj ayat 28.  Allah SWT betfirman yang artinya. 

“Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan, atas rezeki yang Dia berikan kepada mereka berupa hewan ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan sebagian lagi berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir,” sebutnya.

Rektor UIN yang juga pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah itu melanjutkan, saudara-saudara sekalian jamaah shalat idul adha, mengagungkan Allah yakni Takbir adalah merupakan manifestasi utama dari prinsip meng-Esakan Allah. 

“Kalimat Takbir tidak hanya untuk mengagungkan Kebesaran Allah, tetapi sejatinya adalah kesadaran dan pengakuan bahwa kebesaran hakiki itu hanya Milik Allah. Takbir menyadarkan kita untuk terus berharap, senantiasa berdoa dan menatap masa depan dengan penuh optimisme, karena kita semua menyadari bahwa Allah Maha Besar. Semua tantangan betapapun beratnya akan terasa kecil dan ringan selama kita bersama Allah SWT,” tandasnya.

Jamaah yang dirahmati Allah SWT, salah satu ibadah yang disyariatkan di hari raya idul adha adalah korban atau disebut juga idul korban. Secara historis ibadah korban merupakan ibadah yang paling tua dimuka bumi ini. Bahkan lebih dulu daripada ibadah haji itu sendiri, yang secara historis bisa  dilihat dalam kisah kedua putra Nabi Adam AS, yaitu kisah Kobil dan Habil yang  disebutkann dalam al Qur’an

“Kedua putra Nabi Adam itu menyerahkan hasil pekerjaanya, sementara yang diterima hanyalah ibadah yang dilakukan dengan penuh keikhlasan luar biasa, yaitu ibadahnya Habil.  Sedang yang dilakukan dengan terpaksa tak diterima oleh Allah SWT, Hal itu digambarkan dalam al Qur’an surat Al Maidah ayat 27,” jelasnya. 

Selanjutnya Kyai Imam Taufiq menambahkan, hakekat berkorban itu sama dengan hakekat berjuang. Mereka yang memiliki mental dan naluri yang sama dalam berjuang, sudah barang tentu tidak akan berhenti berjuang sebelum tujuanya tercapai. Karena berkorban itu adalah panggilan hati yang terdalam. Sehingga tidak layak jika dilakukan dengan setengah hati.

Sementara itu terkait dengan ibadah korban ini, Gubernur Ganjar Pranowo menghimbau kepada masyarakat yang ingin berkorban agar berhati-hati, karena hal ini ada potensi hewan korban bisa ketularan PMK.

“Pilihlah hewan korban yang baik dan  sehat dan pastikan hewan tersebut sudah melalui pemeriksaan dr. Hewan, kemudian  pelaksanaan penyembelihan pun harus tetap memperhatikan protokol kesehatan,” tuturnya.

Pantauan awak media  tahun ini pelaksanaan  ibadah korban Panitia korban Masjid Raya Baiturahman Jawa Tengah mendapat amanah hewan  korban sebanyak 11 Sapi dan 1 Kerbau serta 23 Kambing.

Penyerahan hewan korban secara simbolis dilakukan oleh Gubernur Jawa Tengah H. Ganjar Pranowo, SE kepada sesepuh pembina Masjid Raya Baiturrahman Jawa Tengah. (Ahmad/Siradjudin)